Filep Karma, Buchtar Tabuni and the Judge

by FX.Making August 18, 2012

Papuan political prisoner Filep Karma argued with the judge at the Buchtar Tabuni trial on July 26, 2012. Karma refused to be called Indonesian national and also wanted to be called follower of Jesus rather than Christian because he thinks the churches in Papua only side with the state, not the people.

Show more
Duration 07:47
Genres
Topics
Tags
Country
Language
Producer FX.Making
Director FX.Making
Contact write the producer
Website http://www.engagemedia.org/papuanvoices
Year produced 2012
Production Company Papuan Voices Jayapura
FF dari Gereja
FF dari Gereja says:
August 07, 2012

Dear Filep Karma serta kawan-kawan seperjuangan,

Tidak perlu kecewa. Fenomena yang terjadi pada Filep Karma dan kawan-kawan itu biasa. Mereka hanya kecewa terhadap gereja.

Saya juga mensinyalir hal yang sama di hirarki Gereja Katolik Indonesia. Sebagai seorang yang dibesarkan sebagai aktivis, saya juga jengkel melihat hirarki Katolik Indonesia saat itu. Menurut kacamata saya, hirarki "bermain halus" menghadapi rezim Soeharto. Tapi, barangkali itu jalan terbaik sebagai minoritas.

Kejengkelan itu membawa saya ke dunia mahasiswa. Ada hasil, diam-diam saya memberi fasilitas kepada para mahasiswa aktivis di suatu universitas di Jakarta. Kebetulan waktu itu saya masih mempunyai kewenangan membantu. Lalu terjadilah masa "reformasi". Waktu itu para aktivis menginginkan "revolusi", tapi orang-orang Soeharto seperti Amin Rais (dan dibantu wartawan kanan seperti Kompas), jadilah dan dikumandangkanlah istilah "reformasi". Reformasi itu gagal persis setelah Amin Rais menaiki tank di halaman kantor DPR RI.

Filep Karma dan kawan-kawan jangan berputus asa. Gereja mainstream memang begitu, ia mesti mencari aman bagi domba-dombanya secara umum. Gereja mainstream mencari dan menyelamatkan "domba yang hilang" dalam konteks dosa. Ia tidak mencari "domba yang berjuang". Cita-cita Yesus dari Nazareth telah 'terpeleset' jauh. Gereja sekarang sibuk dengan 'keselamatan' dalam kacamata Kristus: Keselamatan di akhirat.

Jadi, jangan tunggu Gereja membebaskan kalian. Gereja hanya membantu 'menyelematkan', bukan membebaskan. Kalian sendirilah yang membabaskan diri dalam naungan teladan Yesus dari Nazareth itu. Filep Karma dan kawan-kawan janganlah kecewa, saya yakin, diam-diam, Gereja berdoa bagi kalian. Kondisi sosial-politik hanya memungkinkan tindakan semacam itu. Siapa tahu, diam-diam Sri Paus dkk sedang melakukan sesuatu (lobby) di tingkat dunia? Ingat almarhum John Paul II dan Uni Soviet?

Kalian di grassroots hanya bisa berjuang sesuai dengan kapasitas masing-masing. Tentu kalian akan dituduh separatis. Dulu kami dituduh komunis. Hanya Yesus yang tahu bahwa kalian berusaha mengikuti jejak Dia (sesuai penafsiran kalian). Jangan lupa itu dan jangan takut. Mesti ada kurban. Jangan takut dengan syarat itu. Yesus adalah contohnya. Filep harus teguh seperti Yesus, kendati ancamannya kematian. Tapi, memang harus berhati-hati. Kehati-hatian itu perlu agar kita tidak menyambar kematian membabi-buta.

Kematian itu adalah syaratnya karena apa yang kalian tuntut itu sangat sulit dipenuhi mereka. Yesus menuntut Herodes dan para imam memberi perhatian lebih besar kepada orang-orang kecil yang tertindas. Biasanya tuntutan itu sangat sulit dipenuhi oleh penguasa. Tuntutan itu menuntut penguasa berbagi. Nah, berbagi itu sangat sulit dilakukan saat seseorang semakin berkuasa. Kuasa itu memabukkan. Akibatnya kalian harus merampasnya. Lalu terjadilah kekerasan.

Dalam konteks sekarang ini, keberagamaan kalian itu mengandung unsur-unsur perjuangan. Itulah konteks hidup kalian. Sementara di tempat lain, keberagamaan lebih bermakna keselamatan eskatologis. Gereja menaungi semua umat dalam keberagamaan itu. Kalau kalian ingin menggereja sebagai orang dewasa, lakukanlah apa yang kalian yakini tanpa harus menyalahkan Gereja (hirarki). Saya dulu menyalahkan Gereja (hirarki).

Tapi, kemudian saya menyadari bahwa keberimanan dan keberagamaan berkaitan erat dengan pendewasaan diri. Semakin dewasa, semakin percaya diri, dan melakukan sesuatu atas dasar keyakinan yang kuat dalam upaya mengikuti jejak-jejak Yesus dari Nazareth.

Bagi saya, Yesus dari Nazareth itu mati di salib, bukan 'direncanakan' Allah BapaNya, melainkan konsekuensi logis dari perjuangan membebaskan orang-orang tertindas dan mengahadapi manusia yang gila kekuasaan (sama sekali tak mau berbagi).

Salam,
F

Alex
Alex says:
February 18, 2013

November 9, 2010 at 9:17 am</a>Sue, one word I would consider rensiivg is empowering. I've met some folks along the way that object to that word when used in the context of ministry leaders empowering others to serve. The true power comes from the Holy Spirit. So, to avoid that little bit of conflict, I am trying to use unleash in its place. I know it's a small thing, but I like to remove any obstacle that I can! Reply</a>