Skip to content. | Skip to navigation

Personal tools
Log in Register
Social justice and environmental video from the Asia Pacific
Sections
Personal tools
You are here: Home Members Lococonut Videos Jakarta Punya Mau: Ayumi's Letter on the Busway
You are here: Home Members Lococonut Videos Jakarta Punya Mau: Ayumi's Letter on the Busway
You are here: Home Members Lococonut Videos Jakarta Punya Mau: Ayumi's Letter on the Busway
Document Actions

Jakarta Punya Mau: Ayumi's Letter on the Busway

by Lococonut last modified Jan 02, 2012 11:08 AM
3.83333333333
No rating set

Japanese student Ayumi Ogura wrote to her Bahasa Indonesia lecturer describing her experience with the much loved and hated busway transportation system in Jakarta. Her letter was then read out and improvised on by the participants of Video for Change Workshop in Jakarta.

Embed
05:07
Genres
Categories
Keywords
Country
Language
Video information
Produced by Lococonut
Directed by Irsyad Ridho
Contact write the producer
Produced Jul 27, 2011
Production Company Ruang Lain & Lococonut

Full Description

SABAR, SABAR

Ayumi Ogura


Sudah malam.  Anginnya agak keras. Saya buru-buru pulang ke rumah.

Ketika saya mulai menunggu bus di Halte Dukuh Atas, saya melihat jam tangan. Sudah 8:30. Saya ingin naik bus Transjakarta yang menuju TU Gas. Kemudian sebuah bus datang, tetapi ia hanya lewat di depan saya dan berhenti di pintu antrian yang menuju Ragunan. Sebentar kemudian, bus yang lain datang dan berhenti pas di depan saya, tetapi ternyata ia jurusan yang ke Terminal Pulogadung. Tidak pergi ke TU Gas. Banyak orang mendorong punggung saya untuk naik ke bus itu. Saya berusaha tetap tahan berdiri.

Bus yang lain datang lagi, tetapi rupanya ke jurusan Ragunan. Datang pula yang lain, tetapi ke jurusan Pulogadung. Lalu Ragunan. Pulogadung. Ragunan. Ragunan. Pulogadung. Pulogadung. Pulogadung…

Lama-lama jumlah orang yang ingin pergi ke arah TU Gas makin bertambah. Semuanya lelah menunggu. Kini sudah jam 9:30. Ah, akhirnya bus yang bertuliskan “TU Gas” datang juga. Semuanya terlihat senang, membayangkan bisa pulang ke rumah masing-masing. Kami buru-buru naik ke dalam bus.

Anehnya, tiba-tiba petugas busnya berseru, “Pulogadung!”

Tapi, semuanya tidak bisa bersabar lagi. Seorang ibu-ibu malah langsung memarahi petugas itu, “Udah 1 jam lebih kok nggak datang-datang juga? Kita udah mau pingsan nih, Mas!"

Petugas itu tampak bingung sesaat, lalu pergi bertanya kepada bosnya, sang sopir. Sementara si petugas masih berunding dengan bosnya, ibu-ibu yang marah-marah tadi tiba-tiba berteriak, “Ayo, naik aja!!! Ke TU Gas aja udah!” Kami semua segera merangsak masuk. Sudah tidak peduli apa-apa lagi.

Namun, petugas itu sudah berbalik dan berseru dengan wajah kesal, “Pulogadung! Ini ke Pulogadung!”

Ibu-ibu itu kini benar-benar tidak tahan lagi. Dia mengumpat sejadi-jadinya, “Anjing!!! Gila!"

“Sabar, Bu. Sabar. Tunggu dua bis lagi. Tunggu sebentar aja,” ujar petugas itu berusaha menenangkan. Dia kemudian menyuruh kami semua turun dari bus. Apa boleh buat. Dengan hati yang tak berdaya, kami hanya bisa memandang bus itu pergi berlalu.

Kini saya menyadari satu hal: saya benar-benar benci transportasi di Jakarta.

 

Letter read and performed by:

  1. Arnold  Pakage
  2. Mohammad Rifai
  3. Rémy Koolschijn
  4. Nabilah Syechbubakar
  5. Karina Tanjung
  6. Bernard Agapa
  7. M. Muchti Narulsa
  8. Velliarahmi Fadjri
  9. Susi Fitri
  10. Afrilian Rizky
  11. Fiika Amriiani
  12. Zaky Mahendra Zulkarnaen

Other videos by this author

  • Reclaim APUSE: Gorby in Papuan Voices on Human Rights Day Reclaim APUSE: Gorby in Papuan Voices on Human Rights Day

    Posted on Dec 14, 2011

  • Sights and Sounds from the Freeport Dispute Sights and Sounds from the Freeport Dispute

    Posted on Nov 04, 2011

  • Jakarta Punya Mau: Mute dan moralitas aparatur pemerintah Jakarta Punya Mau: Mute dan moralitas aparatur pemerintah

    Posted on Jul 28, 2011

Alex D. Ronggo
Alex D. Ronggo says:
Jul 28, 2011 12:42 AM
Mengurai kemacetan Jakarta.. Jadi ingat Lakon.... "Waiting for Godot".
Sampe akhir cerita dan para penonton ninggalin gedung Teater, Si Godot tak jua menampakkan diri.
Ternyata eh ternyata di Godot hanyalah ilusi belaka.Jagonya penulis naskah mempermaikan emosi penonton.
Akankah demikian dengan nasib transportasi Jakarta,yang semestinya aman, tertib dan lancar?

Jangan sampai makin banyak orang berteriak,"Saya benciiii transportasi Jakarta".
Add comment

You can add a comment by filling out the form below. Plain text formatting. Web and email addresses are transformed into clickable links.