Bilal
This experimental film questions the meaning of being both a punk and a Muslim. Bagasworo is a punk who sings Adzan (the song Muslim people sing each time they pray five times a day). This film was shown in the Rotterdam film festival in 2008 and at "Jakarta 32 degress" held by Ruangrupa, in Jakarta, 2006.
03:50
- Genres
- Categories
- Country
- Language
| Video information | |
|---|---|
| Produced by | Forum Lenteng |
| Directed by | Bagasworo Aryaningtyas |
| Contact | write the producer |
| Home page | more info |
| Produced | Jan 29, 2009 |
| Production Company | Forum Lenteng |
| Distributor | Forum Lenteng |
Full Description
| (INDONESIA) Bilal: Dilema Kebebasan dan Fasisme Ideologi Punk |
![]() |
![]() |
![]() |
| Ditulis oleh Mirza Jaka Suryana | |
| Kamis, 17 Juli 2008 00:00 | |
|
Karya video Bilal (2006) merupakan karya pertama dan penting dari Bagasworo Aryaningtyas. Karya ini juga seakan menjadi penegasan identitas Bagasworo sebagai punker sejati. Karya-karya lanjutannya seperti Memanjakan Tubuh (2007) dan Lingkaran X (2008) masih memainkan bentuk-bentuk eksterior dari sebuah identitas. Meski demikian,Bilal dapat dijadikan acuan untuk menganalisa kondisi dunia kekinian. Melihat Bilal mengumandangkan azan dalam balutan pakaian dan gaya rambut punk bagi saya merujuk ke arah-arah yang saling bertentangan. Arah pertama dari karya video ini adalah kesengajaan untuk membalikkan pemahaman tradisional muslim tentang cara berpakaian seorang muazin. Sutradaranya seakan ingin menegaskan bahwa ciri-ciri berpakaian seseorang tidak lantas melekatkannya dengan ideologi atau kelompok tertentu. Anak punk yang menjadi muazin bisa jadi merupakan suatu kontradiksi, sebab dalam keyakinan Islam tradisional, Bilal adalah seorang yang berpakaian baik, dalam arti tidak serampangan, apalagi dengan rambut bergaya jengger ayam. Dalam sejarah Islam, Bilal merupakan muazin pertama yang menciptakan lirik panggilan bagi kaum muslim untuk sembahyang. Bilal hadir menawarkan suara manusia sebagai panggilan sembahyang kaum muslim untuk membedakan panggilan-panggilan beribadah yang sudah dilakukan oleh pengikut agama lain seperti dengan lonceng untuk gereja kaum Kristen. Pada saat berdebat mengenai panggilan sembahyang, salah seorang pengikut mengusulkan suara tambur, namun usulan itu langsung ditentang oleh Hamzah, pengikut setia dan juga salah satu paman nabi Islam, karena suara tersebut begitu identik dengan darah dan perang. Suara manusia sebagai bentuk panggilan sembahyang kaum muslim, dalam konteks itu, menjadi sebuah panggilan bagi perdamaian. Sejak Bilal mengumandangkan azan, sejak itu pula azan ditetapkan sebagai panggilan khas bagi kaum muslim untuk melakukan ibadahnya. Lirik-lirik azan sendiri tidaklah sesuatu yang sudah dipersiapkan sebelumnya, melainkan hadir saat itu dan digunakan sampai sekarang. Jika Bilal diidentikkan dengan anak lelaki berpeci yang santun dan memiliki suara indah dalam pemahaman Islam tradisional, maka dalam karya video ini, Bilal menjadi seorang anak muda bergaya pakaian bebas dan cenderung menentang pemahaman-pemahaman konvensional. Lewat kelompok-kelompok musik tadi, ideologi politik punk sering diasosiasikan dengan anarkisme. Seiring perkembangan, ideologi-ideologi lainnya seperti pembebasan, kiri-liberal, sosialis, komunis-anarkis dan bahkan neo-Nazi, begitu lekat dengan punk. Dan, di antara sekian banyak ideologi punk, yang paling berbeda adalah ideologi neo-Nazi, karena sangat identik dengan kekerasan dan fasisme. Ideologi neo-Nazi ini dipopulerkan oleh kelompok musik seperti Skrewdriver, Ad Hominem, Aryan Terrorism, Bound for Glory, Brigada NS, Jew Slaughter, Final Solution, White Law dan Infernum. Mereka menjadi bagian dari kelompok anti komunis, yang dikenal sebagai kelompok Nazi Punks dan Rock Against Communism, kelompok-kelompok punk yang sangat nasionalistik dan anti komunis. Mereka punya slogan “Punk’s Not Red”, sebuah permainan dari slogan “Punk’s Not Dead”, yang memiliki hubungan kuat dengan Nazi Skinheads, kelompok fasis dan rasis yang merupakan simbol kebangkitan kembali Nazisme anti-semit. Pada 1980an, kelompok-kelompok punk nasionalistik ini sering kali menyuarakan protes atas otoritas Soviet yang anti-nasionalisme, patriotisme dan jingoisme. Merujuk Karen Armstrong, banyak masyarakat barat yang dididik secara rasional, yang tidak dipersiapkan bagi ritual mistis dan mitis, ternyata ingin kembali kepada nilai-nilai transenden di masa lampau. Untuk kembali ke masa lampau adalah tidak mungkin, maka satu-satunya cara adalah menghidupkan nilai-nilai lama ke masa sekarang, yaitu dengan melakukan ritual dan tindakan-tindakan menolak berbagai hal yang bertentangan dengan keyakinan. Kekerasan menjadi pilihan utamanya. Armstrong lalu menunjukkan perkembangan gerakan radikalisme dan fundamentalisme di dunia Kristen-Barat. Setelah itu, ia kemudian memusatkan perhatian ke dunia agama-agama Timur seperti Islam dan Yahudi. Menurutnya, peningkatan radikalisasi dan bahkan fundamentalisasi tidak hanya terjadi di dunia Islam dengan ideologi jihad yang dimilikinya, melainkan juga di kalangan Yahudi. Dengan basis ideologi yang sama-sama mengusung kekerasan itu, Islam dan Yahudi selalu terlibat pertikaian sampai sekarang.
www.jurnalfootage.net
|












