Papuan Voices dan Konferensi Nasional VI Jaringan Antar Iman

by Yerry Nikholas Borang June 30, 2014
Video-video Papuan Voices ditayangkan dalam kegiatan yang berlangsung di Jayapura 19-23 Mei 2014.

Papuan Voices dan Konferensi Nasional VI Jaringan Antar Iman

Koordinator Jaringan Antar-Iman Indonesia, Elga Sarapung dari Interfidei mengatakan, Konferensi Nasional VI Jaringan Antar Iman Indonesia (JAII), di Sentani, Jayapura, kali ini bisa terselenggara atas kerja sama Forum Konsultasi Para Pemimpin Agama (FKKPA) di Tanah Papua dengan Institut Dialog Antariman di Indonesia. Memilih Papua sebagai lokasi kegiatan dengan tujuan mendukung berbagai upaya agama-agama di Papua dalam rangka membangun Papua Tanah Damai."

Hal tersebut sesuai visi dan misi JAII, yaitu 'agama-agama untuk keadilan dan perdamaian'Tema konferensi : Membangun, Merawat dan Memperkokoh Peradaban Luhur Bangsa dengan Dialog Transformatif. Adapun sub temanya : Tantangan Konkret menuju Keadilan, Kebenaran, Kesetaraan, Perdamaian bagi Seluruh Rakyat-Suku Bangsa Indonesia.

Film-film Papuan Voices diantaranya Papua Calling, Mama Kasmira, Harapan Anak Cenderawasih, di putar saat Konferensi ini berlangsung, tujuannya agar supaya peserta Konferensi yang datang dari Aceh sampai Ambon ini mengenal Papua lebih dekat. Situasi sunyi ketika film Papua Calling ditayangkan, karena seluruh peserta yang datang dari seluruh Indonesia ini, kaget ketika melihat seorang Ustad Adnan Yelipele, SHI, yang berkulit hitam ini mengumandangkan azan di dalam film ini. Pdt.Jacky Manuputty dari Ambon mengatakan, ini “film yang sangat bagus karena walaupun muslim asli Papua, hanya 10% saja di Papua, tetapi mereka juga mempunyai hak yang sama untuk menyuarakan ketidakadilan yang terjadi di Papua”.

Setelah film tersebut para peserta kemudian mendengarkan beberapa materi dari Dr. Adriana Elisabeth peneliti Senior LIPI juga salah seorang penulis buku Papua Road Map, mendukung dialog Jakarta-Papua sebagai pendekatan penyelesaian masalah di Papua,dirinya berharap pemimpin Indonesia yang akan datang memberikan perhatian yang lebih seirus untuk membangun kepercayaan dan membuka ruang komunikasi diantara pemerintah dan masyarakat di Papua, termasuk masalah politik di Papua yaitu masalah pelurusan sejarah. Kasdam XVII Cenderawasih Brigjen TNI H Siburian, menanggapi paparan dari Dr.Adriana Elisabeth yang menyatakan perlu dilakukan dialog untuk menyelesaikan masalah di Papua.

“Dialog dalam konteks politik sudah terlambat,” katanya.Kasdam juga mengatakan bahwa masalah di Papua adalah masalah kesejahteraan. Sehingga dialog dalam konteks kesejahteraan. Lanjutnya. Saya sebagai militer tidak mau bicara karena akan diplintir dalam konteks yang tadi”.

Prof.Dr.Azyumardi Azra, seorang cendikiawan muslim, Prof Azyumardi Azra pun menambahkan bahwa ketika memperjuangkan dialog diperlukan terobosan dan pemerintah mesti punya nyali. “Kalau formalitas maka tidak mungkin. Aceh melalui terobosan juga. Saat JK menemui Hasan Tiro di satu sungai di .Swedia. Terobosan (nonformal) seperti itu yang kita cari”. Dirinya berharap terobosan akan muncul di pemerintahan yang akan datang.