#Proyektor Keliling #Hari14 di Surabaya

by Yerry Nikholas Borang May 30, 2014

Proyektor Keliling sampai di Surabaya pada Jumat tengah malam tanggal 23 Mei 2014. Esoknya jam 11 kami menuju markas C2O, sebuah perpustakaan dan tempat berkumpul komunitas anak muda yang punya kepedulian terhadap lingkungan dan warisan budaya kotanya. Kami berbincang dan berbagi pengalaman tentang manajemen organisasi dengan 13 orang dari 4 komunitas/organisasi.

Malamnya di ruang terbuka di halaman perpustakaan C2O, pemutaran film dilaksanakan. Tepat jam 19.00 acara di dibuka oleh Erlin Guntoro dari C2O dan dilanjutkan dengan pengantar singkat oleh Dhyta Caturani dari EngageMedia tentang Proyektor Keliling dan tema film-film yang akan diputar malam itu. Hampir sama dengan di Solo, pemutaran kali ini mengangkat tema toleransi dan HAM. Film buatan Acong, "Aku Indonesia" yang berkisah tentang kehidupan seorang remaja di Cilacap keturunan Tionghoa lagi-lagi membuka acara, dilanjutkan dengan 4 film lain yaitu Paraliyan, Seragam yang Tidak Melindungi, di Bangku Taman, dan Payung Hitam. Baru sekitar 10 menit film diputar, gerimis turun. Cepat-cepat tikar digulung dan proyektor diangkut ke dalam ruangan. Jadilah pemutaran film dilakukan di dalam ruangan perpustakaan diantara rak dan buku-buku. Suasan di ruangan 4x4 terasa sedikit sesak, namun sekitar 20 penonton yang duduk santai di atas karpet tidak beranjak hingga diskusi selesai.

Pemutaran film di Surabaya kami adakan 2 kali berturut-turut Sabtu dan Minggu, 24 dan 25 Mei 2014. Malam kedua cuaca terang dan kami menonton di pekarangan belakang kantor/perpustakaan C2O. Malam kedua ini film yang diputar bertema Papua. Empat film pendek cerita-cerita tentang Papua diputar, yaitu Pemburu terakhir Harapan Anak Cendrawasih, Ironic Survival dan Surat Cinta kepada Sang Prada dan ditutup dengan film "R.I" yang bercerita tentang orang-orang Indonesia di pengasingan yang membuka restoran Indonesia di Paris.

Penonton yang kebanyakan anak muda banyak bertanya tentang Reformasi yang ditunjukkan di dalam film Payung Hitam, juga tentang apakah para aktivis baik dari EngageMedia maupun yang lain merasa "capai" mempromosikan HAM dan demokrasi. Ada seorang penonton yang kelihatan pesimis dengan situasi saat ini namun dari diskusi, semua orang tampaknya setuju jika kita harus terus memperjuangkan keadilan bagi sesama. (Nita)

Catatan:

Semua video tentang toleransi bisa dilihat dan diunduh di http://www.engagemedia.org/Projects/bhinneka-tinggal-duka dan tentang Papua di http://www.engagemedia.org/Projects/papuanvoices.